Apa arti kata strut dalam bahasa Indonesia, akar kata, imbuhan, terjemahan, sinonim, antonim, frasa, contoh kalimat?
๐ง Fonetik
๐Pengucapan Amerika: /strสt/
๐Pengucapan Inggris: /strสt/
๐ Arti Kata yang Rinci
- verb (v.)๏ผberjalan dengan sikap percaya diri yang berlebihan
Contoh: He struts down the street like he owns it. (Dia berjalan dengan sombong di jalan seperti memilikinya.) - noun (n.)๏ผbagian struktural yang menyangga atau menopang
Contoh: The strut in the car's suspension needs to be replaced. (Struktur penyangga suspensi mobil perlu diganti.)
๐ฑ Akar Kata, Awalan, Akhiran
Akar kata: Berasal dari bahasa Inggris kuno 'strouten', yang berarti 'berjalan dengan keangkuhan', berkaitan dengan gerakan yang kokoh dan percaya diri.
๐ก Mnemonik Asosiasi
Menyangkut ke sikap berjalan yang sombong: Seorang pria berjalan di jalan dengan kepala tinggi dan dada membentang, menunjukkan sikap yang sangat percaya diri.
๐ Mnemonik Sinonim dan Antonim
Sinonim:
- verb: swagger, parade
- noun: support, brace
Antonim:
- verb: slink, sneak
- noun: weakness, fragility
โ๏ธ Mnemonik Frasa
- strut one's stuff (menunjukkan keterampilan atau keindahan diri)
- strut around (berjalan dengan sikap sombong)
๐ Mnemonik Contoh Kalimat
- verb: She strutted into the room, confident and proud. (Dia berjalan masuk ke ruangan dengan percaya diri dan bangga.)
- noun: The struts of the bridge are crucial for its stability. (Struktur penyangga jembatan sangat penting untuk stabilitasnya.)
๐ Mnemonik Cerita
Cerita dalam Bahasa Inggris:
In a small town, there was a peacock known for its beautiful feathers and its habit of strutting around proudly. One day, the peacock decided to visit the city, strutting down the streets, showing off its magnificent plumage. People stopped to admire its beauty, and the peacock felt like the star of the show, unaware that a gust of wind was about to ruffle its feathers.
Cerita dalam Bahasa Mandarin:
Di sebuah kota kecil, ada seekor merak yang dikenal karena bulunya yang indah dan kebiasaannya berjalan dengan sombong. Suatu hari, merak itu memutuskan untuk mengunjungi kota, berjalan di jalan-jalan, menunjukkan bulunya yang megah. Orang-orang berhenti untuk mengagumi keindahannya, dan merak itu merasa seperti bintang pertunjukan, tidak menyadari bahwa hembusan angin akan mengguncang bulunya.